Majapahit Today – Ramadhan di Surabaya selalu datang dengan dua wajah: hiruk-pikuk kota metropolitan dan kehangatan yang diam-diam tumbuh menjelang Maghrib. Di kota yang bergerak cepat ini, waktu terasa berlari, tetapi saat puasa, senja seakan punya makna yang berbeda.
Sejak pukul empat sore, arus kendaraan mulai menebal. Dari kawasan perkantoran hingga pusat perbelanjaan, orang-orang bergegas menyelesaikan pekerjaan. Di sekitar Tunjungan Plaza, deretan mobil merayap pelan, sementara para pekerja dengan pakaian rapi menenteng tas dan kantong belanja, berharap tiba di rumah sebelum azan berkumandang.
Lampu merah di Jalan Basuki Rahmat menjadi saksi wajah-wajah lelah yang bercampur harap. Di atas sepeda motor, seorang ayah menyeka keringat di pelipisnya. Di dalam angkutan umum, seorang mahasiswa menatap jam di ponselnya, menghitung menit menuju berbuka.
Kemacetan menjelang Maghrib bukan sekadar persoalan lalu lintas. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang ingin pulang. Tentang ibu yang sudah menyiapkan kolak di meja makan. Tentang anak-anak yang menunggu ayahnya membuka pintu rumah tepat waktu.
Di sudut-sudut jalan, pedagang takjil menghadirkan warna tersendiri. Di sepanjang Jalan Darmo, lapak-lapak sederhana berdiri berjejer. Uap dari gorengan hangat naik perlahan, aroma manis sirup dan santan bercampur dengan udara sore yang lembap.
Seorang ibu penjual es buah mengaku Ramadhan selalu menjadi musim harapan. Dagangannya mungkin sederhana, tapi setiap gelas yang terjual adalah tambahan rezeki untuk keluarga. “Yang penting berkah,” katanya pelan, sambil tersenyum kepada pembeli yang antre.
Di antara deru mesin dan bunyi klakson, ada momen-momen kecil yang menggetarkan. Seorang pengendara menepi, membuka botol air mineral tepat ketika azan terdengar dari radio mobil. Tegukan pertama itu terasa lebih dari sekadar melepas dahaga—ia seperti jeda panjang setelah hari yang melelahkan.
Tak sedikit pula yang berbuka di jalan. Sebutir kurma dan air putih menjadi teman setia di atas jok motor atau kursi kemudi. Sederhana, tanpa meja makan, tanpa hidangan lengkap. Namun justru di situlah letak ketulusan rasa syukur.
Remaja masjid dan komunitas sosial turut memberi warna. Di beberapa persimpangan, mereka berdiri membagikan takjil gratis kepada pengendara. Senyum dan ucapan “hati-hati di jalan” terasa hangat di tengah padatnya kota.
Langit Surabaya perlahan berubah jingga keunguan. Siluet gedung-gedung tinggi membingkai senja yang sebentar lagi berganti malam. Kota ini mungkin tak pernah benar-benar sunyi, tetapi saat azan Maghrib menggema dari masjid ke masjid, suasana seakan melunak.
Di rumah-rumah sederhana hingga apartemen bertingkat, meja makan menjadi titik temu. Ada keluarga yang akhirnya lengkap setelah seharian berpencar dengan kesibukan masing-masing. Ada tawa kecil, doa singkat, dan rasa lega karena bisa berbuka bersama.
Bagi sebagian warga, perjalanan pulang yang terjebak macet adalah ujian kesabaran tambahan. Namun Ramadhan memang mengajarkan lebih dari sekadar menahan lapar—ia melatih hati untuk tetap tenang di tengah situasi yang tak selalu mudah.
Surabaya sebagai kota metropolitan menyimpan paradoks: cepat sekaligus penuh jeda. Cepat dalam ritme kerja, dalam lalu lintas, dalam target dan tenggat. Namun setiap Maghrib di bulan suci, ada jeda yang mempersatukan ribuan orang dalam satu waktu yang sama.
Berbuka di kota besar bukan hanya tentang makanan yang tersaji, tetapi tentang niat untuk pulang, tentang usaha menyempatkan diri, dan tentang rasa syukur yang tumbuh di sela kemacetan. Di tengah padatnya jalan dan kesibukan yang tak pernah habis, Surabaya tetap memberi ruang bagi warganya untuk merasakan hangatnya Ramadhan—meski hanya dalam beberapa menit yang begitu berarti.






Leave a Reply